https://histoirecoloniale.net/la-loi-sur-la-restitution-des-biens-culturels-spolies-a-lepoque-coloniale
La loi sur la #restitution des biens culturels spoliés à l’époque coloniale
15/05/2026
Analyse de la loi adoptée en mai 2026 facilitant la restitution par la France des biens culturels spoliés à l'époque coloniale. Par Dorothée Rivaud-Danset
#colonialism
#colonisation
La loi sur la restitution des biens culturels spoliés à l’époque coloniale

Analyse de la loi adoptée en mai 2026 facilitant la restitution par la France des biens culturels spoliés à l'époque coloniale. Par Dorothée Rivaud-Danset.

Histoire coloniale et postcoloniale
Bluesky

Bluesky Social

Cerpen: Batu Dadu Karya Mochtar Lubis

Batu Dadu

Cerpen Karya Mochtar Lubis (1950)

AKU berdiri dekat meja tempat main dadu, menonton orang-orang main – memperhatikan wajah orang yang bertukar-tukar, riang dan kecewa karena menang dan kalah – dan air muka orang yang tidak berobah sama sekali kalau kalah atau menang. Batu-batu dadu berdering-dering berlaga dengan piring, dan teriak bandar parau menyuruh orang memasang taruh memenuhi udara bercampur dengan bau manusia. Bau keringat dan minyak wangi. Bau yang biasanya melekat di udara jika ada keramaian manusia bersama-sama.

“Banyakkah menang?” sekonyong-konyong suara halus berbisik di telingaku. Aku berpaling. Dan aku lihat dia berdiri di belakang. Tersenyum.

“Engkau?”

“Ya,” katanya. “Engkau kejam benar. Semenjak aku kawin, engkau tidak pernah datang-datang lagi.”

“Ya. Tetapi tidakkah engkau lebih kejam lagi meninggalkan aku?”

Dia tersenyum. Dan aku tersenyum kembali. Begitu saja. Seakan-akan apa yang kami alami dahulu bersama-sama terjadi dalam penghidupan dan dunia yang lain. Tidak ada sangkut-pautnya dengan pertemuan kami sekarang. Pertemuan di Pasar Malam ini. Hanya dia dan aku. Dua orang berkenalan. Bersahabat barangkali. Itu saja. Panas nyala nafsu dahulu tidak timbul dalam badan ketika kami bertemu kembali demikian.

“Dengan siapa engkau?” tanyaku.

“Sendiri saja,” katanya. “Suamiku ke Palembang.”

“Oh.”

“Aku hendak main sebentar,” katanya.

Aku meminggir memberi tempat kepadanya.

“Tidak,” katanya. “Pasangkanlah buat aku. Terlalu sempit dekat meja.”

Diberikannya kepadaku sehelai uang kertas lima rupiah. “Ditukar dahulu?”

“Tidak,” katanya. “Pasanglah semuanya.”

“Di mana?”

“Di mana saja.”

Aku letakkan di angka tiga. Buah dadu dikocok, berdering-dering. Dibuka, keluar dua lima dan satu-satu.

“Kalah,” kataku.

Dia tertawa.

“Ini lagi,” katanya, dan diberikannya sehelai uang kertas lima rupiah lagi.

“Di mana?”

“Di mana saja.”

“Tidak,” kataku. “Tadi aku pasang sudah kalah. Sekarang engkaulah yang memilihnya.”

“Lima,” katanya dan aku letakkan di angka lima. Buah dadu dikocok berdering-dering, suara bandar parau berteriak menyuruh pasang taruh, dan dibukanya. Kalah lagi. Lima rupiah lagi. Kalah. Lima rupiah. Kalah. Lima rupiah. Kalah. Hingga akhirnya dia telah kalah tujuh puluh lima rupiah.

“Sudahlah,” kataku. “Itu seperempat gajiku telah hilang.” Dia tertawa. “Masa baru begini telah berhenti,” katanya. Dan diberikannya kepadaku uang kertas seratus. Aku tukarkan kepada bandar dengan uang kertas lima rupiah. Tiga kali berturut-turut kalah lagi.

“Ah, ini penghabisan,” kataku. Dan aku letakkan sepuluh rupiah di atas angka tiga. Dua angka tiga keluar. Dia tertawa riang.

“Pasang lagi,” katanya, dan tangannya memeluk lenganku.

Aku pasang. Menang. Pasang. Menang. Dan tiap kali menang, dia bertambah riang, dan tangannya makin keras memegang lenganku, dan badannya makin rapat kepadaku, hingga dadanya terasa lembut menembus kain kemeja.

Kekalahannya hanya tinggal lima belas rupiah lagi. Ditariknya tanganku mengajak pergi.

“Terus saja main,” kataku.

Dia tertawa.

“Sudahlah,” katanya. “Itu untuk membayar kita main sejam lamanya.” Aku berikan uangnya kepadanya.

“Peganglah,” katanya.

Aku masukkan ke saku bajuku. Kami berjalan meninggalkan tempat main dadu. Dia berhenti di depan tempat permainan menembak dengan senapan angin.

“Tembakkan buat aku sebotol minyak wangi Tosca,” katanya.

Botol minyak wangi Tosca itu terletak di atas nomor 12. Aku bidik. Tidak kena. Sekali lagi. Tidak juga kena. Sekali lagi. Tidak juga kena. Hingga delapan kali.

“Apa boleh buat,” kataku. “Aku bukan juru tembak.”

Dia tertawa-tawa mengganggu aku. Kemudian dia mengajak aku ke restoran. Restoran penuh dan kami terpaksa berdiri sebentar menunggu meja menjadi kosong. Sebuah orkes keroncong main. Suara penyanyinya seperti bunyi paku digoreskan ke atap seng. Kemudian beberapa orang keluar dan kami duduk menggantikan mereka.

“Makan?”

“Tidak. Minum saja.”

“Apa?”

“Apa saja,” dan dia tersenyum.

Aku pandangi matanya. Seakan-akan cahaya api lama bernyala di belakang matanya. Aku pesan creme de menthe.

Kemudian, “Kurang keras ini,” katanya. Aku lihat dia. Dia melihat kembali. Aku pesan wiski. Dan kemudian, “Tidak panas engkau rasa di sini?” tanyanya.

Kami keluar dari Pasar Malam. Aku panggil becak.

“Tidak. Jangan itu,” katanya. “Yang pakai tutup.”

Dia bersandar ke bahuku. Dan tiba-tiba di ciumnya mulutku keras-keras.

“Engkau mabuk,” kataku.

“Karena engkau,” katanya.

Begitu saja. Mulutnya yang lunak lembut. Wangi bedak di pipinya. Wangi rambutnya. Tubuhnya yang panas. Dan tiba-tiba nyala api dalam malam-malam dahulu, ketika kami serumah — aku bayar makan di rumah pamannya — berkobar kembali, memeluk tubuhku dalam pelukan merah panas. Dan kemudian kami tidak dibecak lagi. Hanya berdua-dua saja dikelilingi empat buah dinding. Pintu tertutup. Kamar yang asing. Kemudian api surut. Padam. Tinggal debu panas. Tidak ada bara menyala. Dan debu cepat menjadi dingin. Hilang diserakkan angin. Tidak ada yang tinggal dalam hati. Rasa kecewa. Kosong. Bukan menyesal. Tetapi kecewa. Seperti main dadu, tidak keluar nomor taruhan. Hanya dia kelihatan girang.

Dan ketika aku antar dia pulang, dipegangnya tanganku di depan pagar pekarangan.

“Sampai di sini saja,” kataku. “Telah larut malam.”

“Ya,” katanya.

“Kapan kita bertemu lagi?” tanyanya. Dia memandang kepadaku.

Aku lihat matanya. Ketika itu aku tahu. Mengapa aku merasa kecewa. Karena baginya malam ini bukan lanjutan malam-malam dahulu, sebelum dia kawin. Aku ambil uangnya dari saku bajuku. Ditolaknya tanganku, dan dia berpaling, berlari kecil, naik beranda. Ke dalam telingaku serasa terdengar suaranya seperti di tempat main dadu tadi… itu untuk belajar kesenangan kita main sejam lamanya….

Dia membuka pintu. Cahaya lampu dari dalam mengalir keluar menembus gelap dalam beranda, dia melangkah ke dalam, menutup pintu, dan beranda itu gelap kembali.

Aku lihat uang kertas di tanganku. Selintas aku pikir hendak membuangnya. Aku bukan jago, pikirku dengan marah. Tetapi kemudian uang itu aku simpan kembali. Dan aku melangkah pulang.

Sumber: Batu Dadu (Dice) adalah cerita pendek dari kumpulan cerita pendek karya Mochtar Lubis, Si Djamal : dan tjerita2 lain / oleh Mochtar Lubis, Gapura, Djakarta, 1950, h. 85.

Foto: Ismail Marzuki (bottom right, playing saxophone) with The Jazz Division of Lief Java Orchestra, 1936, https://en.wikipedia.org/wiki/Ismail_Marzuki and https://en.wikipedia.org/wiki/Gugur_Bunga.

Orkes Krontjong

https://youtu.be/fk7Xx91-ymA?si=OL_VyYLH0em5LU5Y

CNN Indonesia, Maret 6 2023: “Jakarta punya segudang keunikan. Kali ini Sisi Kota mengunjungi kampung Tugu di Cilincing, Jakarta Utara yang memiliki cerita yang berusia empat abad. Permukiman yang didiami peranakan Portugis ini mencoba bertahan di tengah gerusan perkembangan zaman termasuk dengan keseniannya.” Sumber: https://www.krontjongtoegoe.com/

Batu Dadu Jaman Revolusi

Soort gokspel. Bankbiljetten liggen op een laken met afbeeldingen van dobbelstenen, April 1948

Rate this:

#books #Cerpen #Colonialism #History #Indonesia #Literature #MochtarLubis #Netherlands #Relationships #renungan #Revolution #Sastra #Sejarah #ShortStory #SiDjamal #WorldWarII

Today in Labor History May 16, 1871: Workers of the Paris Commune destroyed the Vendôme Column ("monument de barbarie"), a monument to war that was topped with a statue of Napolean. The communards were particularly disgusted that this glorification of war, colonialism and national chauvinism had been erected on the Rue de la Paix (Peace Street). The communards promptly renamed the plaza “Place Internationale” in celebration of their ideal of international fraternity.

The communards governed from a feminist and anarcho-communist perspective, abolishing rent and child labor and giving workers the right to take over workplaces abandoned by the owners. They took over all aspects of economic and political life. They enacted a system that included self-policing, separation of the church and state, abolition of child labor, and employee takeovers of abandoned businesses. Churches and church-run schools were shut down. The Commune lasted from March 18 through May 28, 1871. Karl Marx called it the first example of the dictatorship of the proletariat. Marx had also predicted the fall of the Column in his 1852 political pamphlet The 18th Brumaire of Louis Bonaparte. The Commune ended in massacres and mass executions known as Semaine Sanglante, or the Bloody Week. During this time, the French Army entered Paris and quashed the commune. They killed 10,000-20,000 men, women and children. They also arrested over 43,000 people, sentencing ninety-five to death, 251 to forced labor, and 1,169 to deportation. Thousands more fled to avoid prosecution. One of the leaders of the commune was a young school teacher named Louise Michel. During her trial she said “I do not wish to defend myself, I do not wish to be defended. . . . since it seems that any heart which beats for freedom has the right only to a lump of lead, I too claim my share. If you let me live, I shall never stop crying for revenge and l shall avenge my brothers. I have finished. If you are not cowards, kill me!” She was deported to the French colony of New Caldonia.

You can read my complete biography of Louise Michel here: https://michaeldunnauthor.com/2024/04/20/louise-michel/

#workingclass #LaborHistory #paris #commune #anarchism #communism #marx #louisemichel #massacre #prison #deportation #colonialism #feminism

Evelien Gans Lecture by Eva Illouz

De Balie, Wednesday, May 20 at 08:00 PM GMT+2

The third Evelien Gans Lecture will be given by French-Israeli sociologist Eva Illouz. Afterwards, she will engage in a conversation with Arnon Grunberg.

An outspoken critic of Israeli policies who at the same time questions prevailing views on colonialism and Zionism within the academic left, Illouz often finds herself at odds with different sides of the debate. In her lecture, Illouz will reflect on the public debate that was set in motion after the October 7 attacks in Israel. She has been critical of strands within Western academic debate, that in her view insufficiently acknowledge the experiences of Israeli victims.

In 2025, Illouz was at the centre of a controversy when Erasmus University withdrew its invitation at Illouz to speak at the university. Erasmus University later apologised for this. Earlier, Illouz was denied the Israel Prize, the most important cultural prize in Israel, by the Israeli government because of her criticism of the IDF.

Illouz’ work focuses on how modern culture shapes our emotions, relationships, and ideas about love. In her most recent work, Explosive Modernity, she argues that the defining crises of our time can only be understood through the powerful emotions that drive them: fear, disappointment, rage, shame, and love. She has applied this perspective to several societies, including Israel, analyzing how the current government mobilizes emotions to deepen social divisions and undermine democratic norms.

About Eva Illouz
Eva Illouz (1961) is a professor of sociology at the University of Jerusalem. She researches love, emotions, and modern culture. Her earlier book Why Love Ends has been published in Dutch. Her latest book Explosive Modernity has been released in 2025.

About the Evelien Gans Lecture

Evelien Gans (1951 – 2018) was a committed scholar, a critical and combative historian, and a chronicler of Jewish life. In addition to her work as a researcher at the NIOD (Netherlands Institute for War Documentation), she was a professor of Contemporary Judaism. In 2018, she said in an interview with Vrij Nederland: “I am not only Jewish, but also a woman, left-wing, and a historian.” Her sister Heleen Gans, friend Judith Bruinsma, and colleague Dienke Hondius are the initiators of the Evelien Gans Lecture to honor her legacy. They organize the lecture together with De Balie, De Groene Amsterdammer, Jewish Cultural Quarter, and the Menasseh ben Israel Institute.

https://offbeat.amsterdam/event/evelien-gans-lecture-by-eva-illouz

Africa-France Summit and the people’s counter-summit: The Pan-African summit against #imperialism
By Gathanga Ndung’u
#antiimperialism #colonialism #solidarity #socialism
https://roape.net/2026/05/14/africa-france-summit-and-the-peoples-counter-summit/
“The idea that extreme #wealth is a reward for extreme talent is pervasive and strongly reinforced in our media and popular culture. But this perception is not rooted in reality.
60% of billionaire wealth is from #inheritance, #cronyism or #monopoly.”
#Inequality #capitalism #colonialism
The unjust poverty and unearned wealth of colonialism
https://www.oxfam.org/en/takers-not-makers-unjust-poverty-and-unearned-wealth-colonialism
Takers Not Makers: The unjust poverty and unearned wealth of colonialism | Oxfam International

Oxfam International

El colonialismo no es historia: es presente. Familias en Gaza resisten hoy en campamentos sobre aguas residuales, despojadas de tierra, agua, dignidad.

Mahmud Darwish escribió: "¡Que Palestina era… y sigue siendo!" Esa resistencia es real, cotidiana, urgente.

Lee los testimonios desde el terreno:
https://chileglobalsumud.cl/blog/bajo-las-sombras-pantano-cronica-resiliencia

#colonialism #Palestina #Solidaridad

Bajo las Sombras del Pantano: Crónica de la Resiliencia

Testimonio desde Gaza: familias desplazadas resisten en tiendas levantadas sobre pantanos de aguas residuales, entre enfermedades, frío y hambre, aferradas a la esperanza del retorno. Un llamado a la solidaridad con la Flota de la Resiliencia.

Flotilla Sumud Chile

El colonialismo sigue presente: potencias extranjeras controlando territorios, recursos y vidas. En Gaza, la realidad es urgente. Una nueva flotilla humanitaria se prepara para zarpar desde Barcelona con decenas de barcos y miles de personas dispuestas a romper el bloqueo.

Lee más: https://chileglobalsumud.cl/blog/una-nueva-flotilla-humanitaria-con-decenas-de-barcos-se-prepara-para-zarpar-desde-barcelona-e-intentar-llegar-a-gaza

#colonialism #Gaza #SolidaridadGlobal

Una nueva flotilla humanitaria con decenas de barcos se prepara para zarpar desde Barcelona e intentar llegar a Gaza

Un centenar de países y 3.000 personas participarán en la iniciativa, según los organizadores. La misión anterior terminó con la detención de sus responsables en aguas internacionales por parte de Israel

Flotilla Sumud Chile