Cerpen: Batu Dadu Karya Mochtar Lubis
Batu Dadu
Cerpen Karya Mochtar Lubis (1950)
AKU berdiri dekat meja tempat main dadu, menonton orang-orang main – memperhatikan wajah orang yang bertukar-tukar, riang dan kecewa karena menang dan kalah – dan air muka orang yang tidak berobah sama sekali kalau kalah atau menang. Batu-batu dadu berdering-dering berlaga dengan piring, dan teriak bandar parau menyuruh orang memasang taruh memenuhi udara bercampur dengan bau manusia. Bau keringat dan minyak wangi. Bau yang biasanya melekat di udara jika ada keramaian manusia bersama-sama.
“Banyakkah menang?” sekonyong-konyong suara halus berbisik di telingaku. Aku berpaling. Dan aku lihat dia berdiri di belakang. Tersenyum.
“Engkau?”
“Ya,” katanya. “Engkau kejam benar. Semenjak aku kawin, engkau tidak pernah datang-datang lagi.”
“Ya. Tetapi tidakkah engkau lebih kejam lagi meninggalkan aku?”
Dia tersenyum. Dan aku tersenyum kembali. Begitu saja. Seakan-akan apa yang kami alami dahulu bersama-sama terjadi dalam penghidupan dan dunia yang lain. Tidak ada sangkut-pautnya dengan pertemuan kami sekarang. Pertemuan di Pasar Malam ini. Hanya dia dan aku. Dua orang berkenalan. Bersahabat barangkali. Itu saja. Panas nyala nafsu dahulu tidak timbul dalam badan ketika kami bertemu kembali demikian.
“Dengan siapa engkau?” tanyaku.
“Sendiri saja,” katanya. “Suamiku ke Palembang.”
“Oh.”
“Aku hendak main sebentar,” katanya.
Aku meminggir memberi tempat kepadanya.
“Tidak,” katanya. “Pasangkanlah buat aku. Terlalu sempit dekat meja.”
Diberikannya kepadaku sehelai uang kertas lima rupiah. “Ditukar dahulu?”
“Tidak,” katanya. “Pasanglah semuanya.”
“Di mana?”
“Di mana saja.”
Aku letakkan di angka tiga. Buah dadu dikocok, berdering-dering. Dibuka, keluar dua lima dan satu-satu.
“Kalah,” kataku.
Dia tertawa.
“Ini lagi,” katanya, dan diberikannya sehelai uang kertas lima rupiah lagi.
“Di mana?”
“Di mana saja.”
“Tidak,” kataku. “Tadi aku pasang sudah kalah. Sekarang engkaulah yang memilihnya.”
“Lima,” katanya dan aku letakkan di angka lima. Buah dadu dikocok berdering-dering, suara bandar parau berteriak menyuruh pasang taruh, dan dibukanya. Kalah lagi. Lima rupiah lagi. Kalah. Lima rupiah. Kalah. Lima rupiah. Kalah. Hingga akhirnya dia telah kalah tujuh puluh lima rupiah.
“Sudahlah,” kataku. “Itu seperempat gajiku telah hilang.” Dia tertawa. “Masa baru begini telah berhenti,” katanya. Dan diberikannya kepadaku uang kertas seratus. Aku tukarkan kepada bandar dengan uang kertas lima rupiah. Tiga kali berturut-turut kalah lagi.
“Ah, ini penghabisan,” kataku. Dan aku letakkan sepuluh rupiah di atas angka tiga. Dua angka tiga keluar. Dia tertawa riang.
“Pasang lagi,” katanya, dan tangannya memeluk lenganku.
Aku pasang. Menang. Pasang. Menang. Dan tiap kali menang, dia bertambah riang, dan tangannya makin keras memegang lenganku, dan badannya makin rapat kepadaku, hingga dadanya terasa lembut menembus kain kemeja.
Kekalahannya hanya tinggal lima belas rupiah lagi. Ditariknya tanganku mengajak pergi.
“Terus saja main,” kataku.
Dia tertawa.
“Sudahlah,” katanya. “Itu untuk membayar kita main sejam lamanya.” Aku berikan uangnya kepadanya.
“Peganglah,” katanya.
Aku masukkan ke saku bajuku. Kami berjalan meninggalkan tempat main dadu. Dia berhenti di depan tempat permainan menembak dengan senapan angin.
“Tembakkan buat aku sebotol minyak wangi Tosca,” katanya.
Botol minyak wangi Tosca itu terletak di atas nomor 12. Aku bidik. Tidak kena. Sekali lagi. Tidak juga kena. Sekali lagi. Tidak juga kena. Hingga delapan kali.
“Apa boleh buat,” kataku. “Aku bukan juru tembak.”
Dia tertawa-tawa mengganggu aku. Kemudian dia mengajak aku ke restoran. Restoran penuh dan kami terpaksa berdiri sebentar menunggu meja menjadi kosong. Sebuah orkes keroncong main. Suara penyanyinya seperti bunyi paku digoreskan ke atap seng. Kemudian beberapa orang keluar dan kami duduk menggantikan mereka.
“Makan?”
“Tidak. Minum saja.”
“Apa?”
“Apa saja,” dan dia tersenyum.
Aku pandangi matanya. Seakan-akan cahaya api lama bernyala di belakang matanya. Aku pesan creme de menthe.
Kemudian, “Kurang keras ini,” katanya. Aku lihat dia. Dia melihat kembali. Aku pesan wiski. Dan kemudian, “Tidak panas engkau rasa di sini?” tanyanya.
Kami keluar dari Pasar Malam. Aku panggil becak.
“Tidak. Jangan itu,” katanya. “Yang pakai tutup.”
Dia bersandar ke bahuku. Dan tiba-tiba di ciumnya mulutku keras-keras.
“Engkau mabuk,” kataku.
“Karena engkau,” katanya.
Begitu saja. Mulutnya yang lunak lembut. Wangi bedak di pipinya. Wangi rambutnya. Tubuhnya yang panas. Dan tiba-tiba nyala api dalam malam-malam dahulu, ketika kami serumah — aku bayar makan di rumah pamannya — berkobar kembali, memeluk tubuhku dalam pelukan merah panas. Dan kemudian kami tidak dibecak lagi. Hanya berdua-dua saja dikelilingi empat buah dinding. Pintu tertutup. Kamar yang asing. Kemudian api surut. Padam. Tinggal debu panas. Tidak ada bara menyala. Dan debu cepat menjadi dingin. Hilang diserakkan angin. Tidak ada yang tinggal dalam hati. Rasa kecewa. Kosong. Bukan menyesal. Tetapi kecewa. Seperti main dadu, tidak keluar nomor taruhan. Hanya dia kelihatan girang.
Dan ketika aku antar dia pulang, dipegangnya tanganku di depan pagar pekarangan.
“Sampai di sini saja,” kataku. “Telah larut malam.”
“Ya,” katanya.
“Kapan kita bertemu lagi?” tanyanya. Dia memandang kepadaku.
Aku lihat matanya. Ketika itu aku tahu. Mengapa aku merasa kecewa. Karena baginya malam ini bukan lanjutan malam-malam dahulu, sebelum dia kawin. Aku ambil uangnya dari saku bajuku. Ditolaknya tanganku, dan dia berpaling, berlari kecil, naik beranda. Ke dalam telingaku serasa terdengar suaranya seperti di tempat main dadu tadi… itu untuk belajar kesenangan kita main sejam lamanya….
Dia membuka pintu. Cahaya lampu dari dalam mengalir keluar menembus gelap dalam beranda, dia melangkah ke dalam, menutup pintu, dan beranda itu gelap kembali.
Aku lihat uang kertas di tanganku. Selintas aku pikir hendak membuangnya. Aku bukan jago, pikirku dengan marah. Tetapi kemudian uang itu aku simpan kembali. Dan aku melangkah pulang.
Sumber: Batu Dadu (Dice) adalah cerita pendek dari kumpulan cerita pendek karya Mochtar Lubis, Si Djamal : dan tjerita2 lain / oleh Mochtar Lubis, Gapura, Djakarta, 1950, h. 85.
Foto: Ismail Marzuki (bottom right, playing saxophone) with The Jazz Division of Lief Java Orchestra, 1936, https://en.wikipedia.org/wiki/Ismail_Marzuki and https://en.wikipedia.org/wiki/Gugur_Bunga.
Orkes Krontjong
https://youtu.be/fk7Xx91-ymA?si=OL_VyYLH0em5LU5Y
CNN Indonesia, Maret 6 2023: “Jakarta punya segudang keunikan. Kali ini Sisi Kota mengunjungi kampung Tugu di Cilincing, Jakarta Utara yang memiliki cerita yang berusia empat abad. Permukiman yang didiami peranakan Portugis ini mencoba bertahan di tengah gerusan perkembangan zaman termasuk dengan keseniannya.” Sumber: https://www.krontjongtoegoe.com/
Batu Dadu Jaman Revolusi
Soort gokspel. Bankbiljetten liggen op een laken met afbeeldingen van dobbelstenen, April 1948Rate this:
#books #Cerpen #Colonialism #History #Indonesia #Literature #MochtarLubis #Netherlands #Relationships #renungan #Revolution #Sastra #Sejarah #ShortStory #SiDjamal #WorldWarIICerpen: Ke Mana? Karya Pramoedya Ananta Toer
Ke Mana?
Cerita Pendek Karya Pramoedya Ananta Toer (1946)
Mendung hitam menebal. Hujan mulai melebat kembali. Kadang-kadang saja guntur mengelegar diikuti oleh kilatnya yang cuaca. Bulan November 1946…
Ia masih tetap duduk juga, di kursi malas, di pendapa, menghadap keluar. Badannya tidak bergerak. Cuma kaki kanannya sebentar-sebentar mengetuk-ngetuk lantai dengan sandalnya seperti orang yang tengah memberi mat pada sebuah lagu. Matanya memandang keluar, pada air yang turun dahulu-mendahului rupanya, akhirnya berkumpul dalam pertiwi. Tetapi semua itu tidak dilihatnya.
Hari baru pukul lima sore. Satu jam lagi, dan matahari akan terbenam. Satu jam lagi. Untuk apa waktu yang enam puluh menit itu? Ia tidak memikirkan waktu. Ia tetap duduk seperti itu juga. Sekali-kali tak teringat olehnya akan lalu dari situ. Segan ia berjalan. Segan! Kaki kirinya telah dikuburkan untuk… kemerdekaan. Tak beda dengan pemuda lainnya, iapun pernah turut bertempur di front… di Jawa Barat.
Angannya melayang, menembusi mendung dan hujan, mengikuti pengalamannya yang lampau. Ia mengerang. Ah, sudah setahun lamannya. Tidak, belum setahun, baru sembilan bulan! Waktu itu dinginnya bukan main. Jam tiga menjelang subuh, bulan Pebruari! Hujan turun dengan lebatnya. Ia memimpin satu regu perajurit bagian pasukan jalan dan berkewajiban mempertahankan jalan simpang-tiga, pos-pengintai yang terdepan.
Ia mengerang pula. Hehh, jam tiga, tidak salah, persis pada waktu itu dengan mendadak tampak olehnya barisan tank masuk. Dahsat-menghebat rupanya kena cahaya kilat yang sabung-menyabung. Belum lagi sempat melaporkan gerakan musuh itu kepada induk Tentara, tembakan mitraliur dari atas tank mulai berentetan tak henti-hentinya. Regunya kocar-kacir menyelinap ke dalam semak-semak di pinggir jalan. Cuma dengan susah payah ia bisa mengumpulkan perajuritnya. Seorang dikirimkan kepada induk Tentara untuk memberitahukan peristiwa ini. Empat tank raksasa dengan diikuti oleh lebih-kurang dua ratus pasukan jalan. Barisannya sendiri hanyalah satu regu kurang seorang dengan persenyataan enam karabin beserta seratus delapan puluh peluru dan tekidanto (pelempar granat)* sebuah dengan empat granatnya. Bisakah regunya melawan musuh demikian besarnya? Dalam keadaan yang sulit itu pikirannya masih bisa dipergunakannya untuk menyusun tenaga. Perajurit Sukanto diperintahkan mundur sampai lima ratus meter dan menempatkan tekidanto di tempat yang kelindungan belukar. Kopral Manan tetap di situ dengan sepuluh perajuritnya.
Manan mengatupkan matanya. Cuping hidungnya bergerak. Ja, seakan-akan bau itu tak hilang-hilang hingga kini, darah perajurit Surip yang berleleran menyirami tubuhnya. Ah, perajuritnya sudah seorang tewas. Hatinya jadi panas. “Tembak!” perintahnya. Enam pucuk karabin berjedar menyambar jiwa lima orang pasukan jalan musuh. “Pindah tempat, tembak, pindah, tembak…!” Entah berapa musuhnya yang tewas ia tidak tahu. Sementara itu perajurit Sukanto dengan tekidantonya berhasil mengocar-ngacirkan barisan musuh yang paling belakang. Seperempat jam regunya tak menembak lagi, sebaliknya peluru musuh merupakan tembok yang mengurung pertahanan kecil itu. Untung juga hujan bertambah lebat. Peluru musuh yang seperti kunang-kunang beterbangan tak sebuahpun yang mengenainya. Satu dua jatuh di depannya. Tuhan masih melindungi. Namun regunya harus mundur. Kalau tidak tentu hancur juga jadinya. Tembakan musuh tak juga mau berhenti.
“Teng…!” jam setengah enam. Ia belum bergerak juga. Masih ngeri hatinya mengingat waktu itu. Baru saja regunya hendak mundur, mortirpun berebutan bergegar mengepung mereka. Tidak bisa bergerak. Baru waktu itulah ia menucurkan air mata. Marah, kesal, karena peluru telah habis, tak bisa melawan dan membela diri. Sebuah peluru mortir meledak lima meter di belakangnya. Aduh, perih-sakit rasa tumit kanannya. Badannya jadi panas, hatinya berdebaran, mendesing-desing rasa detik darah di kupingnya. Apa yang telah terjadi? Tumit kanannya dirabanya, telah hantjur bersama sepatu. Hampir tidak percaya. Ia meneluh. Kemarahannya bergumul dengan kesakitannya. Anak buahnya tidak ada yang bersuara lagi, seolah-olah telah diselimuti oleh malakulmaut. Di mana mereka ? Ia tidak tahu. Kemarahannya dan kesakitannya akhirnya tertimbun oleh kelemahannya. Hujan bertambah lebat. Barangkali sebentar lagi musuh mengadakan pembersihan, dan sampailah ia pada akhir riwayatnya. Separoh dari badannya yang ditelentangkan itu, sudah mulai terbenam dalam lumpur. Awan mulai menyelimuti otaknya, kian lama kian tebal… Waktu ia membukakan matanya, hari telah pukul tujuh pagi; ia dalam dukungan Taryana, anak Mandor di daerah front itu.
Taryana! Ia masih ingat padanya. Anak yang baik budi. Kerap ia disuguhi kopi olehnya. Tak kenal waktu, bila Tentera berkunjung, tentu ada-ada saja yang dijamukannya. Ubi rebus, juadah ketan, kacang goreng dan lain-lain. Dan waktu ia terlantar, iapun menunjukkan jasanya sekali lagi. Dengan segala kekuatan yang dikerahkannya, didukungnya Kopral Manan ke rumah Mandor tua, bapaknya, melalui semak-semak dan belukar serta jalan setapak yang sangat licin oleh lebatnya hujan. Kalau Taryana hari itu tidak pergi untuk menengok sawahnya, ya apakah yang akan terjadi atas dirinya? Ia tidak tahu. Kopral Manan tak sadarkan diri lagi. Waktu matanya dibuka lagi, tahu-tahu ia sudah terlentang dibalai-balai Palang Merah Tentera Sub Sektor-I. Sersan Suminto, Sersan Palang Merah memandanginya. Ah, kawan sekolahnya dahulu di SMP. Cuma berpandang-pandangan saja. Tak kuasa mulut mengalirkan perasaan masing-masing. Tetapi itu belum mengharukan bagi hati Sersan Suminto, melihat kawannya sekelas dalam keadaan sakit. Baru tatkala Kopral Manan mengetahui bahwa kaki kanannya telah dipotong, sahabatnya itu menangis tersedu-sedu. Dokter Tentera berkata, bahwa kurbannya itu adalah untuk kemuliaan tanah-airnya. Matanya dikatupkannya, tampak tasik cita-citanya terbakar, terbakar, seperti kota Roma dibakar oleh Nero…
Jam berbunyi enam kali. Hujan tinggal rintik-rintik saja. Manan terpekur. Ia tidak mau lagi mengingat riwayat yang sudah lampau dan menyedihkan itu.
“Kak…” seru adiknya perempuan dari dalam rumah. “Kak Manan! Makan sudah sedia. Makanlah!”
Manan berdiam diri. Suara panggilan adiknya cuma terlintas saja di kupingnya. Matanya tetap memandang air yang harmpir diselimuti kegelapan senya, bercucuran ketepian dengan sorak-sorainya.
“Kak Manan,” seru adiknya selaki lagi, seraya keluar ke pendapa mendekati kakaknya. Dengan lemah lembut ditepuknya bahu kakaknya.
Manan terkejut melihat ke belakang. Oh, Sumarti, adiknya. Dua pasang mata bersabung. Mengapa mata Sumarti berlinang-linang? Sedih melihat nasib kakaknya? Ataukah terkenang olehnya akan Ramli, kadet penerbangan, harapan cita dan cintanya yang telah gugur sewaktu mengadakan penerbangan percobaan? Tidak, tidak, ia tidak mau mengetahui sebabnya. Tetapi akhirnya bertanya juga ia pada adiknya.
“Mengapa menangis, Marti?”
“Marti tidak menangis,” sahutnya, “makan sudah sedia, kak! Makanlah!” Kemudian pergilah ia cepat-cepat masuk ke dalam. Tetapi sebentar kemudian ia kembali pula. Matanya bersih kembali dan ditolongnya Manan mengenakan tongkat ketiaknya. Kakak beradik itu berjalan bersama-sama masuk ke ruang dalam.
Hujan telah reda. Manan masuk ke kamarnya. Gelisah hatinya. Gedung cita-citanya telah terbakar. Alangkah besar keinginannya dahulu akan menjadi orang besar, yang kuasa membangunkan pekerjaan yang besar-besar pula. Ia bercita-citakan jadi insinyur ahli bangun-bangunan. Kerap pula ia membayangkan mendirikan jembatan raksasa yang menghubungkan Madura dengan Surabaya, Bali dengan Banyuwangi. Baru saja ia tamat SMP, sekarang umurnya mendekati delapan belas. Bisakah ia mencapai idam-idamannya itu? Sering ia menerima surat dari kawannya sekelas dahulu, ada yang meneruskan sekolah ke SMT, ada pula ke SMTT, dan tidak kurang yang bekerja di kantor, memanggul senapan. Alangkah baiknya kalau ia bisa meneruskan sekolah. Tetapi harapannya untuk jadi ahli bangun-bangunan itu telan terbakar, hancur oleh peluru mortir Inggris. Mengapakah ia dahulu tidak gugur dalam pertempuran saja? Mengapa ia dipulangkan ke dekat saudaranya dengan tiada bertenaga lagi? Apakah yang harus dikerjakannya lagi?
Dengan tiada disadarinya diambilnya buku aljabar dari rak buku, dibolak-baliknya isinya, tetapi tak ada lagi nafsunya untuk mempelajarinya. Buku itu diletakkannya kembali. Diambilnya majalah-majalah bulanan. Dilihat-lihatnya gambarnya. Perdana Menteri Sutan Sjahrir tersenjum, Jenderal Sudirman disambut oleh rakjat di stasiun Manggarai, Wakil Presiden sedang memeriksa pabrik, Presiden sedang berteriak dalam pidato. Tetapi semua gambar itu tidak melipur hatinya, malah berbendal mengaca hatinya sendiri. Ke mana ia harus pergi?
“Ke mana? Ke mana saja harus pergi?” tanyanya dalam hati.
Sekali lagi dipandangnya gambar Presiden seraja mengulangi pertanyaannya: “Ke mana…?”
Tjikampek, 10 Des. 1946
Pantja Raja Th. II No. 5, 15 Djan. 1947
*tekidanto (Type 89 Grenade Discharger) – Senjata pelancar granat ringan atau mortar ringan yang digunakan secara luas oleh Angkatan Darat Kekaisaran Jepang selama Perang Dunia Kedua. Lihat https://www.chinaww2.com/2014/06/13/japanese-knee-mortar/, https://en.wikipedia.org/wiki/Type_89_grenade_discharger.
Pengarang: Dilahirkan 6 Februari 1925 di Blora. Pendidikan: S.R. Budi Utomo Blora; Radio Vakschool di Surabaya, kemudian Taman Dewasa Jakata. Waktu Jepang: pegawai Domei; permulaan revolusi: frontkorresponden resimen-6, divisi Siliwangi. Permulaan tahun 1947 jadi redaktur mingguan “Sadar”. Dan sebagai akibat pergolakan politik ditawan oleh Belanda dari Juli 1947 sampai Desember 1949. Di dalam penjara Bukitduri terlahir sebagian besar cerita-ceritanya. Tahun 1950 bekerja sebagai redaktur Balai Pustaka, berhenti Maret 1952 dan memulai usaha “Literary & Features Agency Duta” bulan Januari 1952.
Buku-buku pengarang: Krandji Bekasi Djatuh, 1947; Perburuan, BP 1950; Pertjikan Revolusi, kumpulan cerita-cerita pendek. Gapura 1950; Subuh 3 cerita pendek, antara lain “Blora”, Pembangunan 1950; Keluarga Gerilja, Pembangunan 1950; Dia jang menjerah, Pustaka Rakjat 1950, Ditepi Kali Bekasi, Gapura 1951; Bukan Pasarmalam, BP 1951; Mereka jang dilumpuhkan, djilid I dan Il, BP 1951; Tjerita dari Blora, BP 1952; Gulat di Djakarta, Duta Djakarta 1953; Korupsi, dalam madjalah Indonesia” No. 4 Th. V April 1954; Kemudian runtuhlah Madjapahit, belum terbit ; Tjalon Arang, belum terbit. Terjemahan-terjemahannya: “Tikus dan Manusia” (Of Mice and Men) oleh J. Steinbeck, Pembangunan 1950; “Kembali kepada Tjinta Kasihmu”, oleh Leo Tolstoi, BP 1950. Sumber: Gema Tanah Air: Prosa Dan Puisi. 1948. Dikumpulkan dan dengan kata pendahuluan oleh H B Jassin, Cetakan Keempat, Djakarta, Dinas Penerbitan Balai Pustaka, 1959, hal. 216-218.
Rate this:
#Artikel #Cerpen #Independence #Indonesia #inspiration #Japan #life #Literature #Netherlands #PramoedyaAnantaToer #Relationships #renungan #Revolution #Sastra #ShortStory #shortStories #War #WorldWarII #WritersPublikasi kode konverter menyusul secepatnya.
(Kalau ada kesalahan mohon umpan baliknya karena kakawin ini sangat panjang dan saya menyalin sendirian 🥲)
#aksara #aksarajawa #aksarabali #aksarakawi #budayajawa #budaya #kakawin #sastra #sastrajawa #sastrajawakuno #perpustakaannasional
Peringatan 100 Tahun AA Navis, Ini Pesan Gemala Ranti untuk Generasi Muda
#AANavis #Sastra #tamanbudayasumbar
https://radarsumbar.com/sumbar/147537/peringatan-100-tahun-aa-navis-ini-pesan-gemala-ranti-untuk-generasi-muda/?feed_id=3214&_unique_id=6746d26c1ee34
Rayakan 100 Tahun A.A. Navis, Taman Budaya Sumbar Gelar Temu Sastra
#A.ANavis #Sastra #tamanbudayasumbar
https://radarsumbar.com/sumbar/147104/rayakan-100-tahun-a-a-navis-taman-budaya-sumbar-gelar-temu-sastra/?feed_id=2780&_unique_id=6741d2558c246
தஞ்சை சாஸ்த்ரா பல்கலைக்கழக வழக்கு செப்டம்பர் 26ந்தேதிக்கு ஒத்திவைப்பு..
https://patrikai.com/tanjore-sastra-university-case-adjourned-to-september-26/ via @[email protected]
#Thanjavur #Tanjore #Sastra #University #MadrasHighCourt #madrashc
சென்னை: அரசு நிலத்தையும், நீர்நிலைகளையும், ஆக்கிரமித்து சாஸ்த்ரா பல்கலைக்கழகம் கட்டிடங்களை கட்டியுள்ளதற்கு எதிரான வழக்கின் விசாரணையை செப்டம்பர் 26ந்தேதிக்கு நீதிமன்றம் ஒத்தி வைத்துள்ளது. அரசு சிறைக்காக ஒதுக்கிய நிலத்தையும், நீர்நிலைகளையும் ஆக்கிரமிதுது, பல்வேறு கட்டிடங்களை கட்டி, தஞ்சாவூர் மாவட்டம் திருமலைசமுத்திரம் கிராமத்தில் உள்ள சாஸ்த்ரா நிகர்நிலை பல்கலைக்கழகம் செயல்பட்டு வருகிறது. இந்த நிலத்தை சாஸ்த்ரா பல்கலைக்கழகம் ஆக்கிரப்பு செய்தபோது, அப்போது ஆட்சியில் இருந்த அரசும், அதிகாரிகளும் கண்டுகொள்ளவில்லை. இதனால் ஆக்கிரமிப்பு பகுதியல் ஏராளமான கட்டிங்களை கட்டி வகுப்புகளை...