ASAL USUL IKAN KOKI: PERSPEKTIF SEJARAH, GENETIKA, DAN DOMESTIKASI

Ikan koki sering dianggap sebagai ikan hias yang lahir untuk memenuhi keindahan akuarium, padahal sejarahnya bermula dari perjalanan domestikasi yang berlangsung sangat panjang. Jauh sebelum memiliki tubuh bulat, warna mencolok, atau sirip yang menjuntai anggun, nenek moyang ikan ini hidup di perairan tawar Asia Timur dengan bentuk tubuh yang ramping dan warna yang cenderung kusam

https://ceritauntukesok.wordpress.com/2026/06/14/asal-usul-ikan-koki-perspektif-sejarah-genetika-dan-domestikasi/

Menelusuri jejak sejarah KDE dari awal mula diciptakan pada 1996 hingga menjadi sistem operasi modern dan andalan di Steam Deck.

#fediverse #Sejarah #Evolusi #Antarmuka

https://dalam.web.id/sistem-terbuka/mula-sejarah-kde

Sejarah KDE: Evolusi Antarmuka Linux dari 1995 Hingga Era Steam Deck

Kisah inspiratif perjalanan KDE (Kool Desktop Environment). Kenali evolusi antarmuka grafis Unix paling populer dari masa ke masa.

Layar Kosong

Comment: The Dark Gift of May by Budiman Tanuredjo

The Dark Gift of May

By Budiman Tanuredjo, MemoBDM Substack, May 15, 2026

May always brings back memories. For Indonesia it marks the fall of the New Order regime after 32 years of rule. For Catholics, May is the month of Mary, a time for pilgrimage, reflection and inner silence.

This year I took a road trip from Wednesday night to Sunday morning. I traveled from Kerep Cave in Ambarawa to Sendang Sono in Kulonprogo, to Sendang Sriningsih in Klaten, Mojosongo Marian Cave in Solo, Ngrawoh Cave Park in Sragen and finally on to Tritis in Gunung Kidul.

I chose to travel by road so I would meet more people. Along the way I saw the nation at work. Buildings for the red-and-white cooperatives are beginning to appear in a few places. Cooperative cars are everywhere. National Nutrition Agency buildings are visible in various regions to support the free nutritious meal program.

But behind these buildings I sensed unease. How is the country really doing? The question arose again and again. In Sendang Sono, someone asked me why I wasn’t on television anymore. In Klaten, a trader asked me why television rarely reported the complaints of ordinary people. I couldn’t answer all of them. After people started to relax, I asked them: “Why don’t you join one of the [government’s new] cooperatives?” His reply was quiet: “I’m not sure it will work.” He then described his experience with regional bureaucracy — markups, unofficial fees, the fatigue of dealing with the system. “Even Nadiem is facing 18 years. And he was a minister,” he said.

At that moment I realized something: the ordinary people read the country very clearly.

Democracy on the brink

Before leaving Jakarta I chatted in the BacktoBDM guest room with a number of politicians and public figures: Benny K. Harman, Tubagus Hasanuddin, Ahmad Doli Kurnia and senior attorney Petrus Selestinus. One strong impression emerged from that conversation: the 1998 Reform is gradually coming to an end. That doesn’t mean elections are gone or parliament has been dissolved. But the spirit of democracy is gradually ebbing away.

The V-Dem Institute’s 2026 report even states that Indonesia is moving toward electoral autocracy. Democracy remains procedurally in place, but power has become increasingly concentrated and oversight institutions weakened. This phenomenon is described by Steven Levitsky and Lucan Way as competitive authoritarianism.

Modern regimes do not always openly kill democracy. Elections persist. Parties remain vibrant. The media continues to broadcast. But the political arena slowly becomes unbalanced: oversight institutions are weakened, the opposition loses space, the press loses its force as a check, and the law is applied selectively.

Democracy can appear alive from the outside while losing its substantive energy from within. Perhaps that is what we are experiencing today.

The press is losing its bite.

A Reporters Without Borders assessment suggests something similar: Indonesia’s press freedom ranking has fallen sharply, from 111th to 127th in the world. The country is now categorized as “difficult.”

This decline is more than a number. It reflects a new climate: the press is beginning to lose its watchdog function. Noam Chomsky calls this manufactured consent — when the media slowly shifts from acting as a check on power to shaping public agreement with the ruling party’s narrative.

Control does not always come through harsh censorship. Sometimes it comes through fear: fear of losing access, advertising, frequency or proximity to power; fear of an acid attack. As a result, criticism weakens not because it is banned but because people begin to censor themselves.

From democracy to oligarchy

The 1998 Reformasi changes offered great hope. Between 1998 and 2004, press freedom blossomed, a multiparty system emerged, decentralization took hold, and oversight institutions such as the Corruption Eradication Commission (KPK), the Constitutional Court (MK) and the Judicial Commission were born.

However, procedural democracy does not automatically produce substantive democracy. Instead we saw party cartelization, transactional politics and the consolidation of a political-economic oligarchy. Parties gradually lost their ideological function and became preoccupied with managing access to state resources.

Democracy has shifted from “power by the people” to “elite competition for power.”

The nation’s spiritual atmosphere has felt stifled in recent times. Too many developments defy common sense: bans on discussions, control of narratives, suppression of criticism, nepotism and the selective application of the law.

All of this recalls the patterns we thought we left behind in 1998.

May should not simply be a ceremony to remember Reformasi. It should be a moment of national reflection. The country needs a national retreat — not one of platitudes and applause, but a space for honesty to confront the situation as it is.

Purchasing power is declining, inequality is widening, democracy is in retreat and public trust is eroding. Without honesty, Reform becomes an annual slogan.

Memo for us

May always reminds us: no power is truly eternal. History also teaches that democracy does not always die by coups. Sometimes it weakens slowly through small compromises and small fears, repeated over and over.

The country’s greatest task today is not simply to hold elections but to preserve the courage to be honest. A republic does not collapse solely because of economic crisis or political conflict. It collapses when too many people choose silence, even though they know something is wrong.

MemoBDM — Memo Nurani Bangsa

Budiman Tanuredjo is a senior journalist, former editor in chief of Kompas newspaper, host of KompasTV’s premiere current affairs talk show “Satu Meja The Forum” (2015 to 2025), author and doctoral student in political science. He now writes to give a voice to the voiceless through his MemoBDM Substack.

This post is based on https://open.substack.com/pub/memobdm/p/kado-kelabu-di-bulan-mei67. Featured image credit: Photographer Erik Prasetya via BBC and TribunNews, 20 Tahun Reformasi dalam Foto, Wanita Hebat Ini Masuk Catatan Sejarah, Ini Peran Mereka, https://medan.tribunnews.com/2018/05/21/20-tahun-reformasi-dalam-foto-wanita-hebat-ini-masuk-catatan-sejarah-ini-peran-mereka.

Rate this:

#Democracy #History #HumanRights #Indonesia #Photography #Politics #Reformasi #Sejarah #VisualArts

Cerpen: Batu Dadu Karya Mochtar Lubis

Batu Dadu

Cerpen Karya Mochtar Lubis (1950)

AKU berdiri dekat meja tempat main dadu, menonton orang-orang main – memperhatikan wajah orang yang bertukar-tukar, riang dan kecewa karena menang dan kalah – dan air muka orang yang tidak berobah sama sekali kalau kalah atau menang. Batu-batu dadu berdering-dering berlaga dengan piring, dan teriak bandar parau menyuruh orang memasang taruh memenuhi udara bercampur dengan bau manusia. Bau keringat dan minyak wangi. Bau yang biasanya melekat di udara jika ada keramaian manusia bersama-sama.

“Banyakkah menang?” sekonyong-konyong suara halus berbisik di telingaku. Aku berpaling. Dan aku lihat dia berdiri di belakang. Tersenyum.

“Engkau?”

“Ya,” katanya. “Engkau kejam benar. Semenjak aku kawin, engkau tidak pernah datang-datang lagi.”

“Ya. Tetapi tidakkah engkau lebih kejam lagi meninggalkan aku?”

Dia tersenyum. Dan aku tersenyum kembali. Begitu saja. Seakan-akan apa yang kami alami dahulu bersama-sama terjadi dalam penghidupan dan dunia yang lain. Tidak ada sangkut-pautnya dengan pertemuan kami sekarang. Pertemuan di Pasar Malam ini. Hanya dia dan aku. Dua orang berkenalan. Bersahabat barangkali. Itu saja. Panas nyala nafsu dahulu tidak timbul dalam badan ketika kami bertemu kembali demikian.

“Dengan siapa engkau?” tanyaku.

“Sendiri saja,” katanya. “Suamiku ke Palembang.”

“Oh.”

“Aku hendak main sebentar,” katanya.

Aku meminggir memberi tempat kepadanya.

“Tidak,” katanya. “Pasangkanlah buat aku. Terlalu sempit dekat meja.”

Diberikannya kepadaku sehelai uang kertas lima rupiah. “Ditukar dahulu?”

“Tidak,” katanya. “Pasanglah semuanya.”

“Di mana?”

“Di mana saja.”

Aku letakkan di angka tiga. Buah dadu dikocok, berdering-dering. Dibuka, keluar dua lima dan satu-satu.

“Kalah,” kataku.

Dia tertawa.

“Ini lagi,” katanya, dan diberikannya sehelai uang kertas lima rupiah lagi.

“Di mana?”

“Di mana saja.”

“Tidak,” kataku. “Tadi aku pasang sudah kalah. Sekarang engkaulah yang memilihnya.”

“Lima,” katanya dan aku letakkan di angka lima. Buah dadu dikocok berdering-dering, suara bandar parau berteriak menyuruh pasang taruh, dan dibukanya. Kalah lagi. Lima rupiah lagi. Kalah. Lima rupiah. Kalah. Lima rupiah. Kalah. Hingga akhirnya dia telah kalah tujuh puluh lima rupiah.

“Sudahlah,” kataku. “Itu seperempat gajiku telah hilang.” Dia tertawa. “Masa baru begini telah berhenti,” katanya. Dan diberikannya kepadaku uang kertas seratus. Aku tukarkan kepada bandar dengan uang kertas lima rupiah. Tiga kali berturut-turut kalah lagi.

“Ah, ini penghabisan,” kataku. Dan aku letakkan sepuluh rupiah di atas angka tiga. Dua angka tiga keluar. Dia tertawa riang.

“Pasang lagi,” katanya, dan tangannya memeluk lenganku.

Aku pasang. Menang. Pasang. Menang. Dan tiap kali menang, dia bertambah riang, dan tangannya makin keras memegang lenganku, dan badannya makin rapat kepadaku, hingga dadanya terasa lembut menembus kain kemeja.

Kekalahannya hanya tinggal lima belas rupiah lagi. Ditariknya tanganku mengajak pergi.

“Terus saja main,” kataku.

Dia tertawa.

“Sudahlah,” katanya. “Itu untuk membayar kita main sejam lamanya.” Aku berikan uangnya kepadanya.

“Peganglah,” katanya.

Aku masukkan ke saku bajuku. Kami berjalan meninggalkan tempat main dadu. Dia berhenti di depan tempat permainan menembak dengan senapan angin.

“Tembakkan buat aku sebotol minyak wangi Tosca,” katanya.

Botol minyak wangi Tosca itu terletak di atas nomor 12. Aku bidik. Tidak kena. Sekali lagi. Tidak juga kena. Sekali lagi. Tidak juga kena. Hingga delapan kali.

“Apa boleh buat,” kataku. “Aku bukan juru tembak.”

Dia tertawa-tawa mengganggu aku. Kemudian dia mengajak aku ke restoran. Restoran penuh dan kami terpaksa berdiri sebentar menunggu meja menjadi kosong. Sebuah orkes keroncong main. Suara penyanyinya seperti bunyi paku digoreskan ke atap seng. Kemudian beberapa orang keluar dan kami duduk menggantikan mereka.

“Makan?”

“Tidak. Minum saja.”

“Apa?”

“Apa saja,” dan dia tersenyum.

Aku pandangi matanya. Seakan-akan cahaya api lama bernyala di belakang matanya. Aku pesan creme de menthe.

Kemudian, “Kurang keras ini,” katanya. Aku lihat dia. Dia melihat kembali. Aku pesan wiski. Dan kemudian, “Tidak panas engkau rasa di sini?” tanyanya.

Kami keluar dari Pasar Malam. Aku panggil becak.

“Tidak. Jangan itu,” katanya. “Yang pakai tutup.”

Dia bersandar ke bahuku. Dan tiba-tiba di ciumnya mulutku keras-keras.

“Engkau mabuk,” kataku.

“Karena engkau,” katanya.

Begitu saja. Mulutnya yang lunak lembut. Wangi bedak di pipinya. Wangi rambutnya. Tubuhnya yang panas. Dan tiba-tiba nyala api dalam malam-malam dahulu, ketika kami serumah — aku bayar makan di rumah pamannya — berkobar kembali, memeluk tubuhku dalam pelukan merah panas. Dan kemudian kami tidak dibecak lagi. Hanya berdua-dua saja dikelilingi empat buah dinding. Pintu tertutup. Kamar yang asing. Kemudian api surut. Padam. Tinggal debu panas. Tidak ada bara menyala. Dan debu cepat menjadi dingin. Hilang diserakkan angin. Tidak ada yang tinggal dalam hati. Rasa kecewa. Kosong. Bukan menyesal. Tetapi kecewa. Seperti main dadu, tidak keluar nomor taruhan. Hanya dia kelihatan girang.

Dan ketika aku antar dia pulang, dipegangnya tanganku di depan pagar pekarangan.

“Sampai di sini saja,” kataku. “Telah larut malam.”

“Ya,” katanya.

“Kapan kita bertemu lagi?” tanyanya. Dia memandang kepadaku.

Aku lihat matanya. Ketika itu aku tahu. Mengapa aku merasa kecewa. Karena baginya malam ini bukan lanjutan malam-malam dahulu, sebelum dia kawin. Aku ambil uangnya dari saku bajuku. Ditolaknya tanganku, dan dia berpaling, berlari kecil, naik beranda. Ke dalam telingaku serasa terdengar suaranya seperti di tempat main dadu tadi… itu untuk belajar kesenangan kita main sejam lamanya….

Dia membuka pintu. Cahaya lampu dari dalam mengalir keluar menembus gelap dalam beranda, dia melangkah ke dalam, menutup pintu, dan beranda itu gelap kembali.

Aku lihat uang kertas di tanganku. Selintas aku pikir hendak membuangnya. Aku bukan jago, pikirku dengan marah. Tetapi kemudian uang itu aku simpan kembali. Dan aku melangkah pulang.

Sumber: Batu Dadu (Dice) adalah cerita pendek dari kumpulan cerita pendek karya Mochtar Lubis, Si Djamal : dan tjerita2 lain / oleh Mochtar Lubis, Gapura, Djakarta, 1950, h. 85.

Foto: Ismail Marzuki (bottom right, playing saxophone) with The Jazz Division of Lief Java Orchestra, 1936, https://en.wikipedia.org/wiki/Ismail_Marzuki and https://en.wikipedia.org/wiki/Gugur_Bunga.

Orkes Krontjong

https://youtu.be/fk7Xx91-ymA?si=OL_VyYLH0em5LU5Y

CNN Indonesia, Maret 6 2023: “Jakarta punya segudang keunikan. Kali ini Sisi Kota mengunjungi kampung Tugu di Cilincing, Jakarta Utara yang memiliki cerita yang berusia empat abad. Permukiman yang didiami peranakan Portugis ini mencoba bertahan di tengah gerusan perkembangan zaman termasuk dengan keseniannya.” Sumber: https://www.krontjongtoegoe.com/

Batu Dadu Jaman Revolusi

Soort gokspel. Bankbiljetten liggen op een laken met afbeeldingen van dobbelstenen, April 1948

Rate this:

#books #Cerpen #Colonialism #History #Indonesia #Literature #MochtarLubis #Netherlands #Relationships #renungan #Revolution #Sastra #Sejarah #ShortStory #SiDjamal #WorldWarII

Outline slide presentasi interaktif tentang Maulid Nabi: latar belakang, sejarah singkat, pro-kontra ulama, dan sikap bijak menyikapi perbedaan.

#fediverse #Sejarah #ProKontra #Maulid

https://dalam.web.id/jejak-sejarah/maulid-outline-slides

Sejarah & Pro-Kontra Maulid Nabi: Outline Presentasi Lengkap

Outline slide presentasi interaktif tentang Maulid Nabi: latar belakang, sejarah singkat, pro-kontra ulama, dan sikap bijak menyikapi perbedaan.

Layar Kosong

Sejarah lengkap Fujiko F. Fujio, duo kreator di balik Doraemon. Temukan inspirasi, perjalanan, dan proses penciptaan robot kucing terpopuler sepanjang masa.

#fediverse #Sejarah #Fujiko #Fujio

https://dalam.web.id/jejak-sejarah/sejarah-fujiko-f-fujio-pencipta-doraemon

Sejarah Fujiko F. Fujio: Duo Genius Pencipta Doraemon yang Mengubah Dunia Animasi

Sejarah lengkap Fujiko F. Fujio, duo kreator di balik Doraemon. Temukan inspirasi, perjalanan, dan proses penciptaan robot kucing terpopuler sepanjang masa.

Layar Kosong

kesalahan protokoler RDMP Balikpapan terhadap Sultan Kutai. Menelusuri sejarah BPM, legitimasi tanah, dan ironi modernitas yang melupakan akar sejarah.

#fediverse #Kesalahan #Protokoler #Sejarah

https://dalam.web.id/jejak-sejarah/sejarah-bpm-sultan-kutai

Kesalahan Protokoler & Sejarah BPM: Sultan Kutai yang Terpinggirkan

kesalahan protokoler RDMP Balikpapan terhadap Sultan Kutai. Menelusuri sejarah BPM, legitimasi tanah, dan ironi modernitas yang melupakan akar sejarah.

Layar Kosong

"Kami telah merompak petroleum anda berdekad-dekad. Sekarang kami jual balik: turunkan sedikit harga untuk anda kerana baru-baru ini Mahkamah Tinggi KK anda mengarahkan kami supaya menyemak semula hak 40% anda yang kami tinggalkan. Ya, zaman sekarang ini kena pandai menutup aib."

#Sabah #Malaysia #Keadilan #Hak #Ekonomi #Politik #MA63 #Petroleum #Perlembagaan #Rakyat #Sumber #Kekayaan #Borneo #KeadilanSosial #Ketelusan #Aktivisme #Sistem #Sejarah #MasaDepan #Negeri #Gas #Minyak #Federalism

Kupas tuntas sejarah RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta, dari klinik sederhana hingga rumah sakit modern yang mengabdi pada umat sejak 1923. Pelajari peran KH Ahmad Dahlan dan H.M. Sudjak dalam membangun kesehatan masyarakat dhuafa.

#fediverse #Sejarah #Muhammadiyah #Yogyakarta

https://dalam.web.id/jejak-sejarah/sejarah-rs-pku-muhammadiyah-yogyakarta

Sejarah RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta: Mengabdi Sejak 1923

Kupas tuntas sejarah RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta, dari klinik sederhana hingga rumah sakit modern yang mengabdi pada umat sejak 1923. Pelajari peran KH Ahmad Dahlan dan H.M. Sudjak dalam membangun kesehatan masyarakat dhuafa.

Layar Kosong